Menyusuri Kampung Lio, Desa Cantik dengan Jejak Sejarah Dunia

SUKABUMI – Kampung Lio di Desa Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat menyimpan paradoks antara keindahan alam pedesaan dengan jejak sejarah kelam masa kolonial dan perang dunia. Kawasan ini kini dikenal sebagai desa yang tenang dan asri, namun memiliki rekam jejak sebagai lokasi strategis latihan militer hingga saksi peralihan kekuasaan di masa lalu.

Kampung Lio tercatat telah ada sejak akhir abad ke-19 dan berada di wilayah perbukitan dengan lanskap sawah serta aliran sungai yang masih alami. Di balik suasana tersebut, kawasan ini pernah dimanfaatkan sebagai lokasi latihan militer tentara Hindia Belanda karena kondisi geografisnya yang menyerupai medan pertempuran.

Dalam catatan sejarah, pada dekade 1930-an kawasan ini digunakan untuk latihan perang sebagai bagian dari persiapan menghadapi konflik global, termasuk Perang Dunia II. Latihan tersebut bahkan melibatkan skenario pertempuran dari desa ke desa, dengan titik strategis seperti Bukit Pamipiran, kaki Gunung Cipadung, hingga bantaran Sungai Cimandiri.

Selain itu, Kampung Lio juga berada di jalur strategis yang pernah dilintasi sejumlah tokoh dunia. Beberapa nama yang dikaitkan dengan kawasan ini antara lain Eliza R. Scidmore, William Worsfold, hingga tokoh-tokoh internasional lain yang melintas untuk kepentingan inspeksi maupun pengamatan militer.

Peran Kampung Lio semakin signifikan saat masa invasi Jepang ke Hindia Belanda pada 1942. Wilayah Sukabumi, termasuk Kampung Lio, menjadi bagian dari rentetan serangan udara yang menandai peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang dalam konteks Perang Dunia II.

Keberadaan Makam Eyang Layung Kuning di kawasan Gunung Cipadung menjadi penanda historis lain yang menunjukkan bahwa wilayah ini telah lama dihuni masyarakat. Situs tersebut memperkuat nilai sejarah sekaligus budaya yang melekat pada Kampung Lio.

Saat ini, Kampung Lio berkembang sebagai kawasan pedesaan yang menawarkan panorama alam berupa hamparan sawah, perbukitan hijau, dan suasana tenang yang jauh dari polusi. Namun, kondisi geografisnya yang berada di wilayah perbukitan juga menyimpan potensi kerawanan bencana seperti pergerakan tanah dan longsor saat curah hujan tinggi.

Kisah Kampung Lio mencerminkan perpaduan antara potensi wisata alam dan nilai sejarah yang kuat. Kawasan ini berpeluang dikembangkan sebagai destinasi edukasi sejarah sekaligus wisata berbasis alam dengan tetap memperhatikan aspek mitigasi bencana. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Desa Janjang Resmi Jadi Desa Budaya, Wisata Religi Makin Dilirik

PDF 📄BLORA – Tradisi tahunan Manganan Janjang di Desa Janjang, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora (Blora), …

Strategi Baru Brasil, Favela Disulap Jadi Wisata Budaya

PDF 📄JAKARTA – Transformasi citra kawasan favela di Rio de Janeiro, Brasil, mulai menunjukkan dampak …

Jalur Dibuka, Gunung Dempo Kembali Jadi Primadona Pendaki

PDF 📄PALEMBANG – Lonjakan pendaki terjadi di Gunung Dempo, Sumatera Selatan (Sumsel), setelah jalur pendakian …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *