MEDAN – Musik tradisional gondang tetap menjadi pengikat sosial dan identitas budaya masyarakat Batak Toba di tengah arus modernisasi. Lebih dari sekadar hiburan, gondang berperan dalam ritual sakral, penguatan kekerabatan, dan ekspresi kolektif, sekaligus menghadapi tantangan pelestarian di generasi muda.
Gondang, yang merupakan ensambel musik tradisional Batak Toba, biasanya dimainkan dalam upacara adat seperti pernikahan (ulaon unjuk), kematian (ulaon saur matua), hingga ritual keagamaan. Instrumen utamanya meliputi taganing, gordang, ogung, dan sarune, dimainkan secara terpadu untuk menciptakan irama khas yang sarat makna.
Menurut peneliti musik tradisional, Mauly Purba, gondang adalah media komunikasi simbolik antara manusia dengan leluhur. “Gondang bukan sekadar bunyi, tetapi representasi doa dan harapan yang disampaikan melalui ritme dan struktur musikal yang telah diwariskan turun-temurun,” tulis Purba dalam kajiannya.
Selain fungsi sakral, gondang juga memperkuat relasi sosial dalam sistem dalihan na tolu, yang mengatur hubungan antara hula-hula, dongan tubu, dan boru. J.C. Vergouwen menulis bahwa musik ini menjadi sarana penting dalam menjaga kekerabatan: “Melalui gondang, relasi sosial dalam sistem dalihan na tolu diperkuat, karena setiap pihak memiliki peran yang diatur secara adat dalam setiap upacara.”
Dalam praktiknya, setiap tabuhan gondang memiliki aturan dan konteks adat yang jelas. Pargonsi, atau pemain gondang, harus menyesuaikan urutan tabuhan sesuai permintaan penyelenggara, sehingga musik tidak hanya terdengar estetis tapi juga bermakna secara adat. Tarian tortor yang mengiringi gondang juga menegaskan posisi dan momen masing-masing kelompok dalam upacara adat.
Gondang juga menjadi sarana ekspresi emosional kolektif. Dalam jurnal Music and Ritual in Toba Batak Society, peneliti menekankan bahwa partisipasi dalam gondang memungkinkan masyarakat mengekspresikan sukacita maupun duka secara bersama-sama. “Partisipasi dalam gondang menciptakan ruang emosional bersama, di mana individu menjadi bagian dari pengalaman kolektif yang lebih besar,” tulis jurnal tersebut.
Di era modern, tantangan terbesar gondang adalah mempertahankan relevansinya di kalangan generasi muda. Berbagai komunitas dan seniman aktif melestarikan gondang melalui festival budaya, pendidikan musik tradisional, hingga kolaborasi dengan musik modern. Melalui upaya ini, gondang tidak hanya menjaga tradisi masa lalu, tetapi juga menegaskan identitas budaya yang hidup hingga kini dan masa depan.
Gondang tetap menjadi denyut sosial masyarakat Batak Toba, menghubungkan manusia, adat, dan leluhur dalam harmoni yang berkelanjutan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara