PURWAKARTA, DESA – NUSANTARA: Konsep ketahanan pangan kerap berhenti sebatas istilah normatif dalam dokumen perencanaan desa. Namun di Desa Kiarapedes, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, gagasan tersebut diwujudkan dalam praktik nyata yang dapat dilihat dan dirasakan secara langsung.
Ketahanan pangan di desa itu tidak hanya hadir dalam forum musyawarah atau laporan administrasi, tetapi hidup melalui aktivitas keseharian warga. Suara ternak ayam, kebun pekarangan, serta tanaman pangan yang tumbuh berdampingan menjadi bukti konkret bagaimana konsep tersebut dijalankan.
Perwujudan itu salah satunya terlihat dari aktivitas Muhamad Supenda Griana, ST, Pendamping Desa yang kini menjabat sebagai Koordinator Pendamping Desa. Ia memilih membumikan konsep ketahanan pangan tidak hanya melalui perannya dalam pendampingan Musyawarah Desa dan pengelolaan Dana Desa, tetapi juga dengan memberi contoh langsung.
Di kediamannya, terlihat ternak ayam, kebun kecil, serta berbagai tanaman pangan yang dikelola secara terpadu. Hasilnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sementara sebagian lainnya dijual sebagai tambahan ekonomi rumah tangga.
Adapun jenis ternak ayam yang dikembangkan adalah Ayam Sentul, ayam lokal asal Ciamis yang dikenal memiliki daya tahan tinggi, pertumbuhan relatif cepat, serta nilai gizi yang baik. Pemilihan jenis ternak tersebut dinilai selaras dengan prinsip ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal dan keberlanjutan.
Praktik yang dilakukan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari skala rumah tangga dan menjadi contoh nyata bagi masyarakat desa, sekaligus memperkuat pemahaman bahwa program desa tidak harus berhenti pada tataran konsep, melainkan dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata.
Redaksi01-Alfian
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara